Dapatkan Pemberitahuan Terbaru Dari Oldtravian.com dengan FOLLOW Google NEWS

Wisata Wae Rebo, Desa Menakjubkan yang Sudah Mendunia

Wisata Wae Rebo, Desa Menakjubkan yang Sudah Mendunia
Wae Rebo Nusa Tenggara Timur
Wae Rebo

Oldtravian.com - Berbicara soal Indonesia memang tidak ada habisnya. Negara dengan potensi pariwisata yang beragam ini seperti memiliki daya tarik tersendiri. Setiap sudut tempat di pelosok negeri ini menjanjikan keindahan panorama alam yang keindahannya tidak bisa dianggap remeh. Bahkan banyak dari tempat tempat indah tersebut yang namanya belum terlalu terdengar di telinga. Begitu pula dengan tempat yang akan kita bahas kali ini. Yakni sebuah desa adat dimana memiliki keunikan dan keistimewaan tersendiri. Dan yang membuat kamu akan tercengang, desa ini sudah sangat dikenal di kalangan mancanegara. Bahkan disbut sebut sebagai primadona bagi turis turis asing mancanegara. Desa apakah itu? Dan dimanakah tempatnya?

Wae Rebo

Wae Rebo
Wae Rebo

Wae Rebo, begitulah namanya. Sebuah Desa dimana telah harum namanya di negeri orang, sebelum dikenal di negeri sendiri. Penduduk aslinya mengistilahkan bahwa Wae Rebo lebih dulu mendunia, setelah itu baru meng-Indonesia. Desa unik dan menarik ini terletak di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Tmur atau tepatnya berada di Kecamatan Satarmese Barat, Flores. Gunung gunung yang berjajar mengegah memagari kawasan Wae Rebo membuat desa ini seolah terisolasi. Bayangkan, untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari hari saja, masyarakat di Desa Wae Rebo harus berjalan kaki menembus lebatnya hutan yang masih alami, berjalan setapak sejauh 9 km untuk bisa sampai ke Denge, sebuah desa yang paling dekat dengan Desa Wae Rebo.

tantangan yang akan dilewati di Wae Rebo

Sebelum berkunjung ke suatu tempat yang belum pernah Anda datangi sebelumnya, memang tak boleh sembarangan asal berangkat. Anda harus membuat perencanaan terlebih dahulu, banyak aspek yang harus diketahui terlebih dahulu. Dan salah satu aspek yang wajib Anda tahu adalah bagaimana akses dan trasnportasi untuk menuju ke sana. Begitu pula dengan Wae Rebo, Anda harus mencari informasi tentang tempat ini dahulu.

Untuk bisa melihat dunia luar, penduduk Desa Wae Rebo harus menuju ke Denge terlebih dahulu, dan begitu pula sebaliknya. Anda yang dari dunia luar juga harus melewati Denge terlbih dahulu jika ingin sampai di Desa Wae Rebo. Untuk bisa sampai di Denge, Anda bisa menggunakan trasportasi umum. Perjalanan Anda bisa dimulai dari Ruteng, Ibu kota dari Kabupaten Manggarai. Dari Denpasar, Anda bisa menggunakan penerbangan langsung menuju ke Ruteng, hanya saja penerbangannya tidak terjadwal setiap hari. Alternatif keduanya ialah Anda melakukan penerbangan menuju ke Labuan Bajo yang jadwal penerbangannya lebih sering, barulah kemudian melanjutkan dengan naik bus atau travel untuk menuju ke Ruteng. Tarif travel dari Labuan Bajo menuju ke Ruteng ini berharga Rp. 70.000,- dan memakan perjalanan 4 hingga 5 jam.

Transportasi Wae Rebo

Transportasi Wae Rebo
Transportasi Wae Rebo

Dari Ruteng, perjalanan darat dimulai. Transportasi untuk bisa sampai ke Denge atau Bintor (desa di dekat Denge) tidaklah banyak, yakni bemo (semacam angkot) yang beroperasi tidak setiap hari. Yang beroperasi setiap hari adalah kendaraan tradisional bernama Oto Kayu, yakni semacam truk yang bagian belakanganya disulap dengan papan-papan menjadi tempat duduk penumpang. Oto kayu ini pun hanya ada satu dua yang beroperasi tiap hari. Kendaraan ini bernagkat dari Terminal Mena di Ruteng sekitar pukul 9 hingga 10 pagi dan sampai di Denge pukul 2 siang, dengan biaya Rp. 30.000,-Jika Anda ingin mempersingkat waktu, maka bisa naik ojek. Hanya saja harus bersiap terjaga selama di perjalanan dan juga biaya yang diperlukan akan lebih besar yakni Rp. 150.000,-

Wae Rebo Lodge

Wae Rebo Lodge
Wae Rebo Lodge

Setelah perjalanan menggunakan transportasi, akhirnya tibalah Anda di persinggahan terakhir sebelum menuju ke Desa Wae Rebo. Jika Anda masih lelah akibat perjalanan yang cukup panjang, Anda bisa beristirahat terlebih dahulu sembari mengembalikan tenaga. Di Dintor ada sebuah penginapan bernama Lodge. Penginapan ini dimiliki oleh Pak Martinus Anggo, penduduk asli Desa Wae Rebo. Sedangkan di Denge, yakni desa terakhir sebelum bisa menginjjakan kaki ke Wa Rebo, ada sebuah homestay bernama Wejang Asih yang juga dimiliki oleh penduduk asli Desa Wae Rebo bernama Pak Blasius Monta. 11 kamar telah disediakan di homestay ini untuk menunjang akomodasi setiap Anda yang datang. Di dekat homestay Wejang Asih ini, terdapat pula Pusat Informasi dan Perpustakaan Desa Wae Rebo. Sebenarnya, Pak Blasius Monta dan Pak Martinus Anggo masih memiliki pertalian sedarah atau lebih tepatnya mereka adalah saudara sepupu. Kedua orang ini bisa dibilang sebagai pelopor mempromosikan Desa Wae Rebo sebagai tempat wisata.

Petualanganmu menuju ke Wae Rebo baru dimulai

Dari Denge, perjalanan Anda akan dilanjutkan menuju ke Wae Rebo. Serunya, perjalanan kali ini dimulai dengan trekking. Disarankan untuk memulai perjalanan pagi pagi sekali. Pasalnya, sekitar 3 hingga 4 km diawal perjalanan, akses jalan tidak tidak ditutupi oleh pepohonan yang rindang, sehingga jika Anda memulai trakkeing di siang hari, maka sudah dipastikan akan tersengat sinar matahari yang tak bisa kompromi dan akan lebih menguras stamina. Selain tidak baik memulai trakking di siang hari, Anda juga tidak diperbolehkan memulai perjalanan di malam hari. Hal ini dikarenakan trek yang akan Anda lalui berupa tanah yang labil dan rawan longsor, sehingga sangat beresiko jika trekking dilakukan di malam hari.

Wae Rebo Trekking 

Wae Rebo Trekking
Wae Rebo Trekking 

Di 3 hingga 4 km awal perjalanan, akses jalannya cukup untuk pemanasan. Belum terlalu banyak tanjakan yang curam, dan jalanannya pun masih cukup lebar. Namun setelah itu, perjalanan dilanjutkan dengan trek berupa jalan setapak di tengah hutan rimbun yang masih alami. Ada beberapa jalur yang berada di piggiran tebing. Anda harus berhati hati karena jalan ini langsung berbatasan dengan jurang yang dalam. Dari sini, trek perjalanan menuju ke Wae Rebo terus menanjak. Anda akan baru menemukan jalanan yang datar ketika sudah sampai di jarak sekitar 2400 meter sebelum bisa menginjakan kaki di Wae Rebo. Dari sini trek perjalanan akan sangat berbalik dari sebelumnya, karena memang Anda akan menemukan trek jalan yang turun melewati kebun kopi.

Keseluruhan perjalanan trekking ini memakan waktu sekitar 3 hingga 4 jam, tergantung kemampuan Anda. Saat musim hujan tiba, tanah trekking akan sangat licin dan banyak menjadi sarang lintah. Oleh karenanya Anda harus sangat waspada, dan sisarankan menggunakan peralatan yang safety yang sangat memadai. Oh ya, selama perjalanan Anda juga wajib ditemani dengan guide atau porter agar lebih aman dan tidak salah jalur. Satu rombongan minimal menyewa satu guide, dengan ongkos Rp. 150.000,-

Penduduk Wae Rebo

Penduduk Wae Rebo
Penduduk Wae Rebo

Setelah melewati perjalanan darat yang cukup melelahkan dan kemudian dilanjutkan dengan petualangan yang menantang, kini tiba saatnya Anda tiba di Desa Wae Rebo. Ya, tujuan awal telah ada di depan mata. Begitu menginjakn kaki di tanah Wae Rebo, penduduk akan menyambut kedatangan Anda dengan senyuman manis. Penduduk Wae Rebo selalu menerima tamu dari luar dengan senang hati. Keramah tamanahan inilah yang akan membuat Anda betah berlama lama berada di desa adat ini. Sebelum berkeliling desa, Anda harus masuk ke Rumah Gendang. Yakni rumah utama yang diperuntukan untuk para tamu yang datang ke desa ini. Disini Anda akan disambut dengan Upacara Wae Lu’u terlebih dahulu untuk memohon ijin kepada para leluhur untuk menerima tamu. Di dalam upacara ini, siapkan uang Rp. 20.000,- atau seikhlasnya untuk setiap rombongan sebagai sesaji.

Mbaru Niang Wae Rebo

Mbaru Niang Wae Rebo
Mbaru Niang Wae Rebo

Desa Wae Rebo memang sangat terkenal dengan rumah kerucutnya. Rumah tradisional tersebut memiliki nama Mbaru Niang. Lebih dari beberapa dasawarsa terakhir, jumlah dari Ndaru Niang di Desa Wae Rebo ini hanya tinggal empat buah dari yang sebelumnya tujuh buah. Keempat rumah tradisional yang tersisa itupun kondisinya sudah sangat memprihatinkan, sudah lapuk termakan usia. Mirisnya, penduduk setempat tak mampu untuk membangun atau merenovasi kembali Mbaru Niang karena terbentur biaya. Setelah Wae Rebo semakin dikenal di kancah mancanegara maupun Indonesia, akhirnya pada tahun 2010, dua rumah kerucut yang sudah sekarat direnovasi. Selanjutnya tahun 2011 tiga rumah kerucut yang sebelumnya hilang dibangun kembali. Dan tahun setelahnya dua rumah lagi direnovasi. Sehingga kini Wae Rebo memiliki tujuh rumah kerucut lagi seperti sedia kala dan tentu saja dengan kondisi yang sangat bagus.

Terimakasih, pariwisata telah menyelamatkan Wae Rebo
Sejak Pak Blasius memperkenalkan Wae Rebo ke dunia luar, desa ini semakin harum namanya di kancah mancanegara dan kini juga telah dikenal di rumahnya sendiri yakni Indoensia. Wae Rebo terus berbenah untuk menjadi desa adat wisata yang semakin digemari. Untuk menata administrasi pariwisata mereka membentuk Lembaga Pariwisata Wae Rebo (LPW). Dari lembaga ini ditentukan tarif untuk bermalam di Desa Wae Rebo sebesar Rp. 250.000,-. Harga tersebut sudah termasuk makan 3 kali dalam sehari. Dan jika Anda tidak bermalam, maka hanya dikenakan biaya Rp. 100.000,- saja. Mungkin sebagian dari Anda menganggap harga tersebut terlalu mahal. Tapi setelah Anda berfikir lagi, maka harga tersebut sangat wajar. Mengingat untuk mendapatkan bahan makanan saja penduduk sekitar harus menempuh perjalanan hingga 9 km untuk bisa sampai di desa lain. Mereka harus memikul beras dan kebutuhan pokok lain mendaki gunung untuk sampai kembali di Wae Rebo.

Kain Songke Wae Rebo

Kain Songke Wae Rebo
Kain Songke Wae Rebo

Semenjak dikenal, Wae Rebo telah memiliki listrik. Meskipun listrik tersebut baru berasa dari generator dan hanya menyala sejak pukul 10 malam waktu setempat. Untuk membeli bahan bakar agar generator tetap bisa menyala, uang didapatkan dari hasil kunjungan para Anda yang datang. Belum lama ini dikabarkan bahwa ada sebuah kelompok dari Bandung yang ingin membangun PLTA di Wae Rebo ini. Hal ini dilakukan karena memang ketersediaan air di Desa Wae Rebo ini sangat melimpah. Rencananya proyek ini akan dimulai tahun ini. Meskipun listrik sudah masuk ke Desa Wae Rebo, untuk menjaga keaslian rumah dan budaya mereka televisi masih dilarang keberadaannya. Bahkan meski pariwisata terus menunjang keberadaa Wae Rebo, penduduk di desa ini tak lantas berpangku tangan. Mereka tetap giat bekerja. Kebun kopi menjadi salah satu ladang mata pencaharian mereka yang hasilnya akan dibawa ke desa di bawah dan selanjutnya akan dijual ke pengepul kopi. Sedangkan untuk ibu ibu, mereka juga tetap menenun kain songke yang untuk dipakai pribadi atau dijual.

Anak-Anak Wae Rebo

Anak-Anak Wae Rebo
Anak-Anak Wae Rebo

Berada di sebuah desa yang jauh dari hiruk pikuk kehidupan akan menjadi hal yang tak bisa Anda lupakan. Di desa adat ini Anda akan menemukan banyak hal baru yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Banyak pula pelajaran dan pengalaman tentag hidup yang Anda dapatkan. Masyarakatnya yang sangat ramah akan membuat rasa ingin tahu Anda tentang desa ini semakin tinggi. Penduduk Wae Rebo sangat menjujung tinggi nilai nilai yang telah leluhur mereka ajarkan. Mereka sangat menghargai alam. Tak ada kata mengeluh walau setiap harinya mereka hidup tanpa fasilitas mewah layaknya di kota kota besar. Dengan kesederhanaan yang dihadirkan di Wae Rebo, justru disana Anda bisa melihat kemewahan. Anak anak kecil yang merupakan generasi penerus masih bermain layaknya sebagaimana mestinya. Mereka bersenang senang, berlarian bersama. Alam yang bersahabat seakan menjadi imbalan bagi mereka yang tidak haus oleh kekuasaan dan kekayaan.

Gimana liburanmu kali ini sangat seru kan? Anti-mainsteam banget lagi? Selain mendapat kesenangan dan ketengan, dipastikan Anda juga mendapat banyak pelajaran hidup yang berharga. Terutama tentang arti bersyukur.
Oldtravian.com Merupakan Situs Informasi Seputar Wisata dan Traveling.

Post a Comment